Pages - Menu

Rabu, 03 Januari 2018

Mengingat Jejak Langkah Tan Malaka, The Forgotten Founding Father


Jika mendengar nama tokoh pahlawan Indonesia yang satu ini, sudah pasti akan ada banyak sekali masyarakat yang berteriak “komunis! pengkhianat negara!"

Memang tidak bisa dipungkiri jika Sutan Ibrahim Datuk atau yang lebih dikenal dengan Tan Malaka merupakan salah satu tokoh utama PKI atau Partai Komunis Indonesia. Beliau adalah pahlawan dengan pikiran paling revolusioner pada zamannya. Memiliki puluhan gagasan berani bahkan terbilang nekat demi mengubah Indonesia menjadi suatu bangsa yang unggul. Meskipun begitu, namanya hampir tidak dikenal oleh generasi muda masa kini. Mata pelajaran serta buku-buku di sekolah pun sama sekali tidak menyebut nama Bapak.
Dulu sewaktu SD, tokoh pahlawan revolusi melegenda yang saya kenal hanya Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sahrir, Moh. Yamin, A.H Nasution, Jendral A. Yani, Soeharto, dan sebagainya. Ya, nama Tan Malaka seolah-olah sengaja dilenyapkan dari catatan sejarah. Seakan tidak ingin para generasi muda mengetahui jejak perjuangan beliau. Atau mungkin takut jika ada beberapa di antara mereka yang berpotensi menjadi seorang Tan Malaka muda. Nobody knows…..
Satu hal yang perlu digaris bawahi dan dicetak tebal. Seorang Tan Malaka memang merupakan tokoh utama serta pemimpin besar di Partai Komunis Indonesia. Akan tetapi, beliau bukan tokoh apalagi dalang dari pemberontakan serta penghianatannya. Pasalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengira kalau Bapak Republik ini turut menjadi salah satu dedengkot kejadian keji G30S/PKI. Betulkan demikian?
Jujur saja, awal kali saya membaca buku-buku sejarah baik pelajaran maupun umum, sempat geram juga dengan si Bapak (Tan Malaka). Pertama karena mengetahui basis ideology yang dipakai adalah komunis. Pada saat itu, saya langsung tertuju pada sebuah peristiwa pemberontakan, penculikan, pembunuhan G30S/PKI di tahun 1965.
Dari situ saya juga berfikir, kobisa di Indonesia tercinta terjadi pertumpahan darah yang dilakukan oleh rakyatnya sendiri. Pemberontakan PKI pada 30 September 1965 pada waktu itu betul-betul meninggalkan bekas luka yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini. Bagaimana tidak?
Indonesia dijajah bangsa lain, sudah jadi hal wajar. Toh kita memang negara kaya, punya berbagai macam hasil bumi dan lautan berlimpah ruah. Tak heran dong jika ada negara lain yang merasa iri dan punya hasrat untuk mengeksploitasi? Kemudian masalahnya adalah ketika Indonesia sudah diperangi oleh rakyatnya sendiri. Yang dulunya sama-sama berjuang, perperang, memeras darah dan keringat demi satu tujuan yaitu kemerdekaan Indonesia. Setelah merdeka dari tirani Belanda-Jepang, negara dihadapkan dengan cobaan “Perang Saudara”. Tragis dan ironis memang…
Pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa oknum PKI sendiri masih menyimpan banyak rahasia hingga sekarang. Siapakah dalang dibaliknya? Betulkah ada konspirasi, politik, bahkan adu domba di baliknya? Mungkin sekarang ada banyak sejarahwan serta pengaman kondhang yang berhasil sedikit demi sedikit mengungkap kebenaran tersembunyi. Dan dari sebagian besar sumber mengatakan kalau Presiden Soeharto menjadi dalang dari peristiwa tersebut. Akan tetapi, sebagai orang bijak maka tidak seharusnya kita hanya percaya pada satu sisi ataupum sumber saja. Mengingat betapa rumitnya memecahkan misteri dari G30S/PKI itu sendiri. Saya belum ingin membahas detail mengenai pemberontakan tersebut, melainkan mengenai ada atau tidaknya keterlibatan sang pendiri PKI yaitu Tan Malaka. Tujuannya agar bisa meluruskan informasi dan sejarah yang selama ini cukup membuat masyarakat kita salah berasumsi.

Tan Malaka Peduli Kaum Murba atau Proletar
Idiologi komunisme sendiri memang sering dianggap buruk bagi sebagian besar orang Indonesia. Puncaknya adalah ketika terjadi pemberontakan PKI dengan membunuh beberapa pemimpin TNI paling berpengaruh. Padahal dulunya PKI merupakan salah satu partai besar, hampir sejajar dengan partai SI atau Sarekat Islam.
Tan Malaka memutuskan berkecimpung dalam PKI dengan tujuan ingin membela, mengayomi, mendidik, dan membekali para kaum proletar (buruh, petani, budak, dan rakyat jelata yang tertindas kolonialisme) dengan ilmu atau pendidikan layak. Alasannya, pada masa itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Era kolonialisme sangat merendahkan kaum bawah sehingga mereka diperlakukan tidak adil bahkan jauh dari kata layak. Terlebih lagi masalah pendidikan dimana hanya bangsawan beserta keturunannya lah yang diperbolehkan belajar di sekolah.



Inilah yang kemudian membuat Bapak Republik kita merasa empati dan ingin melakukan suatu hal besar untuk menciptakan perubahan. Beliau memang fokus pada kaum tertindas dan proletar dibandingkan dengan para borjuis. Salah satu cita-cita besarnya yaitu ingin mendirikan sekolah bagi kaum proletar serta rakyat jelata. Pada akhirnya keinginan tersebut berhasil dicapai, terbukti dengan berdirinya sekolah kerakyatan pertama yang berbasis di Kota Semarang.

Tujuan dari cita-cita Tan Malaka tak lain adalah untuk mencetak para kader serta generasi bangsa yang revolusioner. Dalam sekolah rakyat yang dibangunnya terdapat tiga tujuan utama yaitu:
  1. Pendidikan ilmu keterampilan/ Ilmu pengetahuan
  2. Pendidikan organisasi/ sosial/ bergaul dan berdemokrasi
  3. Pendidikan agar rakyat selalu berorientasi ke bawah, peduli dengan sesama, terutama kaum tertindas.

Tan Malaka Tak Setuju PKI Memberontak
Kalau masih ingat, ada dua tokoh yang paling terkenal karena menjadi dalang dalam pemberontakan G30S/PKI, yaitu Musso dan D.N. Aidit.
Lalu bagaimana dengan Tan Malaka?

Beliau memang merupakan mantan pimpinan di PKI, akan tetapi sama sekali tidak setuju apabila partai tersebut melakukan pemberontakan. Bahkan sebelum pristiwa berdarah itu terjadi, Tan Malaka seringkali menolak dan memberikan pernyataan tidak setuju terhadap beberapa rencana PKI.

Salah satunya seperti kejadian pada November 1926, PKI berencana melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Sumatera Barat dan Jawa Barat. Kemudian langkah tersebut ditolak keras oleh Tan Malaka. Pada akhirnya pemberontakan berhasil dipadamkan oleh pemerintah kolonial. Ribuan rakyat dibunuh, dipenjara dan diasingkan. Setelah itu, pemerintah kolonial melarang pergerakan dan peredaran PKI. Namun begitu, partai yang satu ini tetap hidup serta bergerak di bawah tanah untuk bangkit dan menyusun strategi baru.

Ada info lain yang saya dapatkan yaitu dari mantan acara Mata Najwa (tayangan lama sih). Topik yang diangkat adalah mengenai Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia dimana sepak terjangnya dalam kemerdekaan negara sering dilupakan. Saya mendapat informasi sekaligus fakta dimana Tan Malaka sama sekali tidak terlibat dalam pemberontakan G30S/PKI. Bahkan beliau seperti mengharamkan terjadinya peristiwa bengis tersebut. 

Narasumber Mata Najwa yang merupakan pihak pengamat serta anggota keluarga dari Tan Malaka sendiri memberikan kesaksian dan pendapatnya. Disebutkan kalau Musso sendiri bahkan ingin menghabisi Bapak kalau sampai ketemu. Pada masa itu, Tan Malaka memang hidup secara sembunyi-sembunyi karena diburu oleh banyak orang dan polisi rahasia dari dua benua sekaligus. Beliau mengalami masa perburuan kurang lebih sampai 20 tahun lamanya. Bisa diambil kesimpulan, bagaimana mungkin seorang pimpinan pemberontak PKI yaitu Musso juga menginginkan kematian Tan Malaka. Kalau saja beliau memang betul terlibat dalam aksi kejam tersebut.

Artikel ini hanya merupakan tumpahan opini pribadi hasil dari proses belajar saja. Bukan berarti saya sangat tau ataupun sok tau mengenai kisah Tan Malaka ataupun misteri PKI itu sendiri. Saya hanya membagikan apa yang saya dapatkan sekaligus isi pikiran saya. Jadi, apabila ada salah informasi, penggunaan kata, dan makna yang kurang baik dan tepat maka maafkanlah saya.

Kalau kalian punya info yang lebih akurat atau opini pribadi, silahkan berbagi di kolom komentar ya. Mari saling belajar dengan memberi dan menerima segala pengetahuan secara bijak dan sopan. Terimakasih ^.^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar