Jika mendengar nama tokoh pahlawan Indonesia yang satu ini, sudah pasti akan ada banyak sekali masyarakat yang berteriak “komunis! pengkhianat negara!"
Memang tidak bisa dipungkiri jika Sutan Ibrahim Datuk atau yang lebih dikenal dengan Tan Malaka merupakan salah satu tokoh utama PKI
atau Partai Komunis Indonesia. Beliau adalah pahlawan dengan pikiran paling
revolusioner pada zamannya. Memiliki puluhan gagasan berani bahkan terbilang
nekat demi mengubah Indonesia menjadi suatu bangsa yang unggul. Meskipun
begitu, namanya hampir tidak dikenal oleh generasi muda masa kini. Mata
pelajaran serta buku-buku di sekolah pun sama sekali tidak menyebut nama Bapak.
Dulu sewaktu SD, tokoh pahlawan
revolusi melegenda yang saya kenal hanya Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sahrir,
Moh. Yamin, A.H Nasution, Jendral A. Yani, Soeharto, dan sebagainya. Ya, nama Tan Malaka seolah-olah sengaja dilenyapkan
dari catatan sejarah. Seakan tidak ingin para generasi muda mengetahui jejak
perjuangan beliau. Atau mungkin takut jika ada beberapa di antara mereka yang
berpotensi menjadi seorang Tan
Malaka muda. Nobody knows…..
Satu hal yang perlu digaris bawahi
dan dicetak tebal. Seorang Tan
Malaka memang merupakan tokoh
utama serta pemimpin besar di Partai Komunis Indonesia. Akan tetapi, beliau
bukan tokoh apalagi dalang dari pemberontakan serta penghianatannya. Pasalnya,
sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengira kalau Bapak Republik ini
turut menjadi salah satu dedengkot kejadian keji G30S/PKI. Betulkan demikian?
Jujur saja, awal kali saya membaca
buku-buku sejarah baik pelajaran maupun umum, sempat geram juga dengan si Bapak
(Tan Malaka). Pertama karena mengetahui basis ideology yang dipakai adalah
komunis. Pada saat itu, saya langsung tertuju pada sebuah peristiwa
pemberontakan, penculikan, pembunuhan G30S/PKI di tahun 1965.
Dari situ saya juga berfikir, kobisa
di Indonesia tercinta terjadi pertumpahan darah yang dilakukan oleh rakyatnya
sendiri. Pemberontakan PKI pada 30 September 1965 pada waktu itu betul-betul
meninggalkan bekas luka yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini. Bagaimana
tidak?
Indonesia dijajah bangsa lain, sudah
jadi hal wajar. Toh kita memang negara kaya, punya berbagai macam hasil bumi
dan lautan berlimpah ruah. Tak heran dong jika ada negara lain yang merasa iri
dan punya hasrat untuk mengeksploitasi? Kemudian masalahnya adalah ketika
Indonesia sudah diperangi oleh rakyatnya sendiri. Yang dulunya sama-sama berjuang,
perperang, memeras darah dan keringat demi satu tujuan yaitu kemerdekaan
Indonesia. Setelah merdeka dari tirani Belanda-Jepang, negara dihadapkan dengan
cobaan “Perang Saudara”. Tragis
dan ironis memang…
Pemberontakan
yang dilakukan oleh beberapa oknum PKI sendiri masih menyimpan banyak rahasia
hingga sekarang. Siapakah dalang dibaliknya? Betulkah ada konspirasi, politik,
bahkan adu domba di baliknya? Mungkin sekarang ada banyak sejarahwan serta
pengaman kondhang yang berhasil sedikit demi sedikit mengungkap kebenaran
tersembunyi. Dan dari sebagian besar sumber mengatakan kalau Presiden Soeharto
menjadi dalang dari peristiwa tersebut. Akan tetapi, sebagai orang bijak maka
tidak seharusnya kita hanya percaya pada satu sisi ataupum sumber saja. Mengingat betapa rumitnya memecahkan misteri dari G30S/PKI itu sendiri. Saya
belum ingin membahas detail mengenai pemberontakan tersebut, melainkan mengenai
ada atau tidaknya keterlibatan sang pendiri PKI yaitu Tan Malaka. Tujuannya
agar bisa meluruskan informasi dan sejarah yang selama ini cukup membuat
masyarakat kita salah berasumsi.
Tan Malaka Peduli Kaum Murba atau
Proletar
Idiologi komunisme sendiri memang
sering dianggap buruk bagi sebagian besar orang Indonesia. Puncaknya adalah
ketika terjadi pemberontakan PKI dengan membunuh beberapa pemimpin TNI paling
berpengaruh. Padahal dulunya PKI merupakan salah satu partai besar, hampir
sejajar dengan partai SI atau Sarekat Islam.
Tan Malaka memutuskan berkecimpung dalam
PKI dengan tujuan ingin membela, mengayomi, mendidik, dan membekali para kaum
proletar (buruh, petani, budak, dan rakyat jelata yang tertindas kolonialisme)
dengan ilmu atau pendidikan layak. Alasannya, pada masa itu Indonesia masih
dijajah oleh Belanda. Era kolonialisme sangat merendahkan kaum bawah sehingga
mereka diperlakukan tidak adil bahkan jauh dari kata layak. Terlebih lagi
masalah pendidikan dimana hanya bangsawan beserta keturunannya lah yang
diperbolehkan belajar di sekolah.
Inilah yang kemudian membuat Bapak Republik kita
merasa empati dan ingin melakukan suatu hal besar untuk menciptakan perubahan.
Beliau memang fokus pada kaum tertindas dan proletar dibandingkan dengan para
borjuis. Salah satu cita-cita besarnya yaitu ingin mendirikan sekolah bagi kaum
proletar serta rakyat jelata. Pada akhirnya keinginan tersebut berhasil
dicapai, terbukti dengan berdirinya sekolah kerakyatan pertama yang berbasis di
Kota Semarang.
Tujuan dari cita-cita Tan
Malaka tak lain adalah untuk mencetak para kader serta generasi bangsa
yang revolusioner. Dalam sekolah rakyat yang dibangunnya terdapat tiga tujuan
utama yaitu:
- Pendidikan ilmu keterampilan/ Ilmu pengetahuan
- Pendidikan organisasi/ sosial/ bergaul dan berdemokrasi
- Pendidikan agar rakyat selalu berorientasi ke bawah,
peduli dengan sesama, terutama kaum tertindas.
Tan Malaka Tak Setuju PKI Memberontak
Kalau masih ingat, ada
dua tokoh yang paling terkenal karena menjadi dalang dalam pemberontakan
G30S/PKI, yaitu Musso dan D.N. Aidit.
Lalu bagaimana dengan Tan Malaka?
Beliau memang merupakan mantan pimpinan di PKI,
akan tetapi sama sekali tidak setuju apabila partai tersebut melakukan
pemberontakan. Bahkan sebelum pristiwa berdarah itu terjadi, Tan Malaka seringkali
menolak dan memberikan pernyataan tidak setuju terhadap beberapa rencana PKI.
Salah satunya seperti kejadian pada November
1926, PKI berencana melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Sumatera Barat
dan Jawa Barat. Kemudian langkah tersebut ditolak keras oleh Tan Malaka. Pada
akhirnya pemberontakan berhasil dipadamkan oleh pemerintah kolonial. Ribuan
rakyat dibunuh, dipenjara dan diasingkan. Setelah itu, pemerintah kolonial
melarang pergerakan dan peredaran PKI. Namun begitu, partai yang satu ini tetap
hidup serta bergerak di bawah tanah untuk bangkit dan menyusun strategi baru.
Ada info lain yang saya dapatkan yaitu dari
mantan acara Mata Najwa (tayangan lama sih). Topik yang diangkat adalah
mengenai Tan Malaka sebagai Bapak Republik Indonesia dimana
sepak terjangnya dalam kemerdekaan negara sering dilupakan. Saya mendapat
informasi sekaligus fakta dimana Tan Malaka sama sekali tidak
terlibat dalam pemberontakan G30S/PKI. Bahkan beliau seperti mengharamkan
terjadinya peristiwa bengis tersebut.
Narasumber Mata Najwa yang merupakan pihak
pengamat serta anggota keluarga dari Tan Malaka sendiri
memberikan kesaksian dan pendapatnya. Disebutkan kalau Musso sendiri bahkan
ingin menghabisi Bapak kalau sampai ketemu. Pada masa itu, Tan Malaka memang
hidup secara sembunyi-sembunyi karena diburu oleh banyak orang dan polisi
rahasia dari dua benua sekaligus. Beliau mengalami masa perburuan kurang lebih
sampai 20 tahun lamanya. Bisa diambil kesimpulan, bagaimana mungkin seorang
pimpinan pemberontak PKI yaitu Musso juga menginginkan kematian Tan Malaka.
Kalau saja beliau memang betul terlibat dalam aksi kejam tersebut.
Artikel ini hanya merupakan tumpahan opini
pribadi hasil dari proses belajar saja. Bukan berarti saya sangat tau
ataupun sok tau mengenai kisah Tan Malaka ataupun misteri PKI
itu sendiri. Saya hanya membagikan apa yang saya dapatkan sekaligus isi pikiran
saya. Jadi, apabila ada salah informasi, penggunaan kata, dan makna yang kurang
baik dan tepat maka maafkanlah saya.
Kalau kalian punya info
yang lebih akurat atau opini pribadi, silahkan berbagi di kolom komentar ya.
Mari saling belajar dengan memberi dan menerima segala pengetahuan secara bijak
dan sopan. Terimakasih ^.^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar